Opini

Ruang Digital, Budaya Nyata, dan Tanggung Jawab Generasi Muda

Penulis: Erni Latif (HMI Badko Sulawesi Utara–Gorontalo Cabang Pohuwato)

OPINI – Perkembangan teknologi digital, khususnya internet dan media sosial, telah membawa perubahan fundamental dalam cara manusia berinteraksi, berkomunikasi, dan membangun identitas sosial. Jejaring maya tidak lagi sekadar ruang alternatif, melainkan telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari.

Di Negara Kesatuan Repulbik Indonesia, penetrasi internet yang masif membuat masyarakat, terutama generasi muda itu lebih banyak menghabiskan waktu di ruang digital dibandingkan ruang sosial tradisional.

Namun di balik kemudahan akses informasi dan terbukanya ruang ekspresi, muncul persoalan serius terkait keberlangsungan nilai-nilai budaya. Tradisi lokal, etika sosial, dan kearifan budaya yang selama ini hidup dalam interaksi langsung perlahan tergeser oleh budaya instan, serba cepat, dan cenderung seragam.

Teknologi, yang pada awalnya dipandang sebagai alat netral, kini berpotensi menjadi agen perubahan budaya yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai lokal. Pertanyaannya yang muncul adalah, apakah jejaring maya menjadi ancaman bagi budaya nyata, atau justru membuka ruang baru bagi ekspresi budaya? Inilah dilema utama yang perlu ditinjau secara kritis.

Fakta dan Data

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Mayoritas pengguna aktif media sosial berasal dari kelompok usia produktif dan generasi muda. Media seperti TikTok, Instagram, dan YouTube tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga membentuk selera, gaya hidup, bahasa, hingga cara pandang terhadap nilai sosial dan budaya.

Fenomena ini membawa dua dampak sekaligus. Di satu sisi, banyak tradisi lokal yang mulai ditinggalkan karena dianggap tidak relevan dengan budaya populer digital. Bahasa daerah semakin jarang digunakan, adat istiadat dipandang kuno, dan nilai sopan santun mengalami pergeseran akibat budaya komunikasi yang serba bebas dan tanpa batas.

Namun di sisi lain, teknologi juga memungkinkan revitalisasi budaya. Banyak komunitas lokal memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan tarian tradisional, musik daerah, kuliner khas, hingga nilai-nilai kearifan lokal ke tingkat nasional bahkan global. Konten budaya yang dikemas kreatif mampu menjangkau audiens luas yang sebelumnya sulit disentuh oleh media konvensional.

Atas dasar data ini, telah menunjukkan bahwa teknologi bukan semata-mata penyebab erosi budaya, tetapi medan kontestasi antara nilai lokal dan budaya global.

Fokus Bahasan

Fokus utama pembahasan dalam opini ini adalah bagaimana teknologi digital berperan ganda, sebagai faktor yang berpotensi mengikis nilai budaya sekaligus sebagai medium baru ekspresi budaya. Erosi budaya terjadi ketika teknologi digunakan tanpa kesadaran nilai, menjadikan budaya hanya sebagai komoditas visual yang kehilangan makna. Sementara itu, ekspresi budaya muncul ketika teknologi dimanfaatkan secara kritis dan kreatif untuk memperkuat identitas dan jati diri.

Masalahnya di sini bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada cara manusia menggunakannya. Ketika jejaring maya dikuasai oleh logika pasar dan algoritma semata, nilai budaya akan tereduksi menjadi tren sesaat. Sebaliknya, jika ruang digital dikelola dengan kesadaran budaya, ia dapat menjadi sarana edukasi dan pelestarian nilai.

Opini Pribadi

Saya di sini berpandangan bahwa teknologi digital adalah pisau bermata dua bagi budaya Indonesia. Ia dapat menjadi alat penghancur nilai jika digunakan secara serampangan, tetapi juga dapat menjadi jembatan penguatan budaya jika dikelola dengan kesadaran kritis. Sayangnya, hingga saat ini, kesadaran budaya dalam ruang digital masih relatif lemah.

Generasi muda sering kali menjadi konsumen pasif budaya global tanpa proses refleksi. Padahal, merekalah aktor utama yang menentukan arah perkembangan budaya di masa depan. Budaya tidak akan hilang karena teknologi, tetapi karena ketidakpedulian kita sendiri terhadap nilai yang diwariskan.

Oleh karena itu, perlu ada upaya sistematis untuk membangun literasi digital berbasis budaya. Literasi ini tidak hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga menanamkan kesadaran etika, identitas, dan tanggung jawab kultural dalam bermedia digital.

Call to Action

Sudah saatnya seluruh elemen masyarakat, pemerintah, institusi pendidikan, komunitas budaya, dan generasi muda bisa saling bersinergi dalam menjadikan teknologi sebagai alat pelestarian, bukan pemusnahan budaya. Pendidikan budaya harus diintegrasikan dengan literasi digital agar ruang maya tidak tercerabut dari nilai-nilai lokal.

Anak muda hari ini perlu didorong menjadi kreator budaya, bukan sekadar konsumen tren. Media sosial harus dimaknai sebagai ruang produksi nilai, tempat budaya lokal hidup, berkembang, dan berdialog dengan dunia global tanpa kehilangan jati diri.

Jejaring maya akan terus berkembang, tetapi budaya nyata tidak boleh ditinggalkan. Tantangan kita hari ini bukan memilih antara teknologi atau budaya, akan tetapi dapat memastikan keduanya berjalan beriringan. Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah sebuah alat, dan nilai budaya kitalah yang akan menentukan arah peradaban.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts